Strategi Dalam Sepakbola

 

Formasi Dan Strategi Sepakbola

 

4-4-2 (offensive formation)

Formasi 4-4-2 ini adalah strategi formasi yang paling banyak digunakan dalam sepakbola saat ini. Kekuatan utama dari formasi 4-4-2 adalah keseimbangan saat penyerangan yang benar. Mempunyai gelandang serang yang solid dan aktif kiri dan kanan. Serangan ofensif yang dikombinasikan dengan pertahanan yang solid. Kelemahannya adalah dua pemain tengah yang harus didukung oleh lini tengah. 4-4-2 mungkin pembentukan pertama yang akan anda hadapi ketika anda mulai untuk bermain game biasa.

 

4-3-3 (total football)

Formasi 4-3-3 sebuah formasi klasik yang diadaptasi oleh team besar tahun 1970-an. Formasi 4-3-3 digunakan Jerman Barat saat memenangi piala dunia 1974. Formasi ini khas untuk total sistem sepakbola yang dimainkan team-team eropa terutama oleh Belanda dan Jerman Barat. Salah satu klub yang perkasa FC Barcelona Spanyol yang sering adaptasi formasi ini dan berhasil dalam permainan mereka dengan kombinasi tiki-taka dengan passing pendek antar pemain yang mulai disusun dari setengah lapangan. Kelemahan strategi ini, terkadang striker yang malas membantu pemain tengah, timnya akan sering diserang lawan.

 

3-4-3 (total offensive) total penyerangan

Formasi 3-4-3 adalah formasi menyerang dengan pemikiran defensif sedikit (sedikit bertahan) dan paling fokus diletakkan pada menyerang. Formasi ini tidak lazim karena membuat tim rentan terhadap serangan balik. Formasi ini tidak banyak pelatih yang menggunakannya saat ini. Namun jika masih ingin mengujinya pastikan untuk memberikan instruksi yang jelas untuk gelandang agar segera kembali cepat membantu pertahanan. Pelatih yang lemah terkadang lupa untuk menginstruksikan agar gelandang membantu pertahanan.

 

3-6-1 (hard workers) butuh pemain pekerja

Formasi 3-6-1 formasi yang sering diadaptasi oleh tim Jerman pada awal tahun 90-an. Tapi, formasi ini bisa menjadi bencana jika team tidak menempatkan pemain dengan tipe pekerja keras di dalamnya. Salah satu contoh adalah tim nasional AS yang diadaptasi selama Piala Dunia 98 dan gagal total. Formasi ini mengutamakan duel pemain tengah dan sering melepas 2 pemain ke area lawan untuk membantu striker. Namun, jika berhasil menerapkan formasi ini maka striker murni akan banyak menciptakan gol.

 

3-4-2-1 (pressure strategy)

Formasi 3-4-2-1 sudah tidak banyak digunakan lagi dalam sepakbola saat ini. Formasi ini akan berhasil ketika tekanan pada lini tengah lawan terus dikembangkan. Namun, pertahanan hanya akan memiliki tiga pemain bertahan sehingga perlu juga diperhatikan. Dengan kata lain, tim akan sangat rentan jika terjadi serangan balik dari lawan, biasanya dilakukan test menilai lawan pada 10 menit di awal pertandingan, lalu akan berubah ke 3-4-3 apabila di serang balik oleh lawan beberapa kali.

 

4-5-1 (defensive strategy) formasi bertahan

Formasi 4-5-1 adalah sebuah formasi total defensive yang biasanya disesuaikan ketika tim lawan adalah tim unggulan dan terlalu sulit untuk memenangkan pertandingan. Hal ini dikritik oleh banyak kritikus serta penonton karena akan menghasilkan pertandingan yang sangat membosankan. Team sebesar Brasil tidak akan bermain cantik Ala Samba ketika bermain dalam formasi ini. Namun begitu, Formasi ini akan sangat ampuh meredam lawan yang lebih tangguh untuk mengindari kekalahan seperti tim Italia selalu bermain dari formasi 4-3-3 ke formasi 4-5-1. Formasi ini lebih banyak digunakan tim apabila sudah tertinggal 2 gol setelah menit 60, formasi ini untuk mengurangi kekalahan angka banyak.

 

5-2-2-1 (defensive strategy) formasi bertahan

Formasi 5-2-2-1 adalah campuran defensif pembentukan 3-4-2-1 menjadi 5-2-2-1 pada saat pertandingan dan selalu berubah-rubah sesuai tingkat kesulitan lawan yang dihadapi. Apabila ada kesempatan maju perlahan menjadi 3-4-2-1, formasi ini memiliki lima pemain belakang, dua gelandang bertahan, dua gelandang ofensif (yang juga dapat bertindak sebagai striker) dan satu striker murni. Tim sebesar Italia jika menggunakan strategi ini akan sangat sulit ditembus karena tingkat disiplin yang tinggi dalam menjaga pertahanan.

 

4-3-3 (triangular attack) serangan 3 gelandang serang.

Formasi 4-3-3 dengan lini tengah segitiga menempatkan gelandang tengah memegang control atas empat pemain belakang dan dengan dua gelandang ofensif di belakang penyerang tengah dari dua sayap. Pemain sayap adalah pemain pekerja keras dan lebih cepat di atas pemain lainnya. Dengan formasi ini akan sangat fleksibel karena bisa menyerang dengan 4-3-3 dan segeran turun bertahan dengan formasi 4-5-1 dengan cepat. Tim yang sering memakai formasi ini adalah Arsenal (Inggris) dan Valencia (Spanyol) dengan pemain-pemain muda yang rata-rata pekerja keras.

 

3-5-2 (offensive modern strategy)

3-5-2 adalah salah satu formasi sepakbola modern sejak era tahun 90-an terutama jika dikaitkan dengan sepakbola Eropa dan Amerika Latin. Formasi ini memiliki popularitas pesat selama Piala Dunia (1990, 1994, 1998, 2002 dan seterusnya) dimana Jerman paling sering menggunakan dan memenangkan pertandingan. Sistem ini juga dipraktekkan berhasil oleh Timnas Indonesia melawan jika tim yang dilawan setara. Tetapi tak berdaya jika berhadapan dengan lawan yang kuat seperti Jepang, Korea dan tim-tim negara Arab karena kalah fisik dan vo2max yang masih di bawah 56 serta faktor cepat kelelahan dan masih banyak kesalahan-kesalahan dasar dari pemain (passing, crossing dan shooting on goal).

 

4-4-1 1 (defensive strategy) formasi bertahan

4-4-1-1 adalah salah satu formasi modern sejak tahun 2000-an, dimana pelatih akan menggunakan formasi ini pada saat tandang lawan, dengan harapan mencuri angka atau kemenangan, dengan mengadalkan striker murni dan dukungan gelandang serang. Biasanya formasi ini digunakan pada babak pertama saja, dari hasil evaluasi babak pertama sang pelatih akan berubah ke formasi offensive (menyerang) 3-5-2/3-6-1 atau tetap bertahan dengan 4-4-1-1. Tim yang paling sering menggunakan formasi 4-4-1-1 di kandang lawan adalah Jepang, Swedia, Amerika Serikat, Portugal.

 

Strategi dan formasi adalah salah satu kunci keberhasilan dari suatu tim yang bertanding.

Catatan :

Sejak tahun 2013 banyak pelatih berkelas international yang pada awal pertandingan (babak 1) menggunakan Strategi A dan bisa berubah strategi pada menit ke-15 ke Strategi B dan berubah pada menit-40 ke Strategi C pada sisa waktu 5 menit babak pertama, dan sering pemain lawan yang menggunakan strategi defensif One By One bisa kehilangan pemain karena perubahan strategi. Dan pada babak 2 Strategi D dicoba di 10 menit pertama, kembali Strategi A di 20 menit berikutnya dan Strategy B sampai menit terakhir. Komunikasi dan isyarat dari pelatih saat di lapangan harus di pahami dan dipelajari terus menerus.

Pelatih-pelatih yang sering mengganti strategi formasi dalam satu pertandingan :

Alex Ferguson, Jurgen Klinsmann, Marcelo Lippi, Frank Rijkaard, Antonio Conte, Jose Mourinho, Vicente Del Bosque, Jose Pekerman, Sabri Lamouchi, Pep Guardiola, Unay Emery, Juan Garido, Roberto Martinez.