Anak, Pelatih dan Orang Tua dalam Pembinaan Sepakbola

Banyak orangtua ingin anaknya berprestasi, kemudian berlomba-lomba mengikutkan anaknya ikut lomba/kompetis/turnamen sepak bola. Tanpa sadar bahwa semakin banyak lomba semakin besar dampak negatifnya.

Berprestasi mungkin jadi impian banyak orangtua terhadap anaknya. Siapa sih orangtua yang tidak ingin anaknya berprestasi? Besarnya hasrat membuat banyak orangtua dan sekolah sepakbola memilih ukuran berprestasi yang mudah diukur. Jadi juara dan dapat piala yang untuk mendapatkannya anak harus mengikuti suatu lomba. Lemari penuh piala adalah tanda kebanggaan.

Tapi tahukah anda bahwa ikut Lomba/Kompetisi/Turnamen, jadi juara dan dapat piala BUKAN ukuran berprestasi? Tahukah anda bahwa ikut lomba berlebih  justru berdampak negatif pada anak?

Saya akan mengajak anda pada suatu siang ketika saya berjumpa seorang teman yang menceritakan pengalamannya. Ia dulu rajin mendaftarkan dan mengantarkan anaknya untuk masuk ke ssb terbaik di jabodetabek. Sebagaimana kebanyakan orangtua, ia meyakini bahwa lomba membuat anak semangat berlatih. Semakin berlatih, semakin mahir anak, semakin berprestasi.

Sampai suatu hari ia mendapati anaknya sedang membuka internet di rumahnya. Sang anak membuka chanel Video Y*utube  satu per satu video di lihat  anak tentang video skill sepakbola dll, serta web yang menampilkan team2 sepakbola seusianya,  Ia penasaran dan bertanya pada sang anak. Alangkah terkejutnya ia mendapat jawaban dari anaknya bahwa ia takut ngk bisa menang lagi atau kalah dari team lain.

Teman saya terhenyak mendengar jawaban sang anak. Tidak terbayang sedikitpun di benaknya bahwa upayanya mengikutkan anak ke kompetisi/turnamen ssb  justru membuat anak tidak percaya diri dengan kemampuannya. Bukannya menunjukkan keunikan dan bakat dirinya, Suatu dampak yang tidak pernah disangkanya. Sejak itu, ia jarang  dan membatasi tiap 3-6 bulan nya hanya sekali  mengikutkan anak ke kompetisi/turnamen antar ssb  maupun lomba yang lain.

Cerita itu kisah nyata. Kisah itu mungkin bukan satu-satunya, ada banyak kisah serupa di masyarakat kita yang kecanduan  Turnament/kompetisi.  Apakah dampak negatif lomba hanya kebetulan atau memang menjadi dampak yang menetap?

Keyakinan terhadap kompetisi /tournament dalam dunia pendidikan sepakbola (SSB) di tingkat global terbagi dua. SSB yang percaya pada kompetisi  vs SSB yang percaya kolaborasi.

SSB yang meyakini kompetisi /Turnamen terlihat dari banyaknya kegiatan lomba dan Kejuaraan SSB yang bisa diikuti oleh anak-anaknya. Jumlah medali, Piagam dan Piala menjadi ukuran prestasi suatu SSB. Tak heran bila mereka  mengirim sebanyak mungkin anak untuk mengikuti kejuaraan/Kompetisi . Semakin banyak anak yang ikut semakin besar peluang suatu sekolah/SSB mendapat Juara/Piala..

Sebaliknya dengan SSB yang percaya kolaborasi. Mereka justru mengabaikan perlombaan dan kompetisi.  Mereka lebih banyak menstimulasi anak-anaknya dengan aktivitas yang menuntut kemampuan berkolaborasi. Bila ada persaingan jumlah medali,Piagam/Piala  mereka pasti kalah Bersaing.

Tahukah anda SSB di Italia, Inggris, Belgia & Spanyol yang sistem Sepakbolanya diakui sebagai salah satu terbaik di dunia termasuk kelompok Negara/SSB mana?  SSB dengan Negara yang meyakini kolaborasi.

Bila ada lomba/Kejuaraan setingkat SSB  setingkat U9 s/d U15 jumlah medali/Piala antara Indonesia dan Italia/Inggris/Spanyol, maka negara kita (Indonesia ) pemenangnya. Tapi mengapa sistem pendidikan & Prestasi  sepakbola  Indonesia terpuruk setelah di atas Usia 17th  bahkan menghilang dan sistem pendidikan sepakbola eropa Inggris, belgia,  italia dan spanyol diakui secara global?

Ya karena logika kompetisi /Turnamen dalam masa pendidikan sepakbola Usia Dini  adalah logika yang menyesatkan. Anak berprestasi tidak diukur dari jumlah juara dan piala. Sistem pendidikan sepakbola  berprestasi tidak diukur dari jumlah anak yang mendapat Piala/Medali.

Mengapa logika kompetisi dalam pendidikan itu menyesatkan? Mari kita simak pendapat ahli pendidikan global, Alfie Kohn di tulisannya berjudul The Case Against Competition. Setelah melakukan kajian terhadap riset di bidang psikologi, sosiologi, pendidikan, biologi dan bidang lainnya, beliau menyimpulkan bahwa kompetisi pada dasarnya buruk. Kompetisi yang sehat dalam pendidikan adalah istilah yang rancu dan kontrakdiktif.

Kompetisi pada harga diri anak ibarat gula pada gigi. Seperti semakin banyak gula maka semakin rusak gigi, begitu pula dengan kompetisi, semakin kompetisi  banyak diikuti semakin merusak harga diri anak. Kompetisi membuat anak melakukan evaluasi terhadap kemampuan dirinya berdasarkan sumber eksternal, anak lain atau peserta kompetisi yang lain. Semakin banyak lawan yang dikalahkan, semakin besar harga diri anak. Menjadi baik tidak cukup, bila tidak mengalahkan semua lawan.

Anak-anak sukses ketika mengatasi kompetisi, bukan karena kompetisi. Banyak orang meyakini bahwa kita melakukan yang terbaik ketika berada dalam sebuah kompetisi. Tanpa kompetisi, kita menjadi orang yang malas, sedang-sedang saja, atau asal berusaha. Itu adalah pandangan palsu karena kita terjebak melakukan penilaian diri hanya dari sumber eksternal.

David Johnson, seorang profesor psikologi sosial di Universitas Minnesota mengkaji semua riset dengan topik kompetisi yang dilakukan hampir 50th sejak 1944 hingga 1994. Enam puluh lima(65) studi membuktikan bahwa anak-anak belajar lebih baik ketika berada dalam lingkungan yang kooperatif dibandingkan yang kompetitif, delapan studi membuktikan sebaliknya dan 36 studi menemukan tidak ada perbedaan antara keduanya. Masih percaya kompetisi membuat anak semangat belajar?

Kompetisi adalah sumber permusuhan. Tidak semua anak akan menang dalam sebuah kompetisi. Bila ada anak yang menang, maka anak yang lain pasti kalah. Seorang peserta kompetisi dibiasakan memandang peserta lain sebagai penghalang dari kemenangannya.

Mereka yang berada dalam lingkungan kompetisi akan sulit memahami sudut pandang orang lain. Riset membuktikan bahwa anak yang kompetitif cenderung kurang berempati pada anak yang lain. Semua urusan dilihat dari sudut pandang kepentingannya. Bila ada yang menghalanginya, maka anak tersebut harus dimusuhi. Itu merupakan bibit hasilkan pemain yang dengan egois/temperamen tinggi, Jangan heran ada perkelahian di lapangan, memukul atau mengkeroyok wasit dsb di tingkat senior/Liga di Indonesia.

Bersenang-senang tidak berarti mengubah lapangan bermain menjadi arena kompetisi. Kita seringkali menganggap kompetisi adalah satu-satunya sumber kesenangan buat anak. Hampir semua kegiatan anak-anak bersifat kompetisi bahkan kegiatan yang sifatnya untuk bersenang-senang sekalipun. Semuanya dilombakan.

Saya sendiri menyaksikan perubahan dari kompetisi menjadi kolaborasi justru membuat anak saya mendapatkan kesenangan yang lebih besar. Di tempat SSB , Anak pasti diikutkan lomba/Kejuaraan/Turnamen minimal 3 Bulan Sekali. Di tempat SSB , Semua anak mendapat kesempatan untuk terlibat dalam kejuaraan/Kompetisi SSB.

Dalam turnament,  tiap anak mempunyai beda2 karakter dan terkadang dalam  team  ada anak berkebutuhan khusus (berat badan lebih, sulit lari cepat, tendangan tidak keras dsb) . Ketika kompetisi, anak berkebutuhan khusus seringkali dipandang merepotkan dan mengganggu usaha kelompok. Tapi dalam turnament, siapapun bekerja sama, saling membantu, agar bisa menampilkan permainan terbaik. Tetapi hanya di Indonesia sudah terbiasa dan kebiasaan buruk, pelatih atau team ambil atau pinjam pemain lain dari team lain untuk menutupi hal tsb, Dan masih Banyak Pelatih Bodoh yang sering Cadangkan Pemain di masa Usia Dini (beri kesempatan yang adil), dengan harapan juara dan mendapatkan Piala/Medali  agar orang tua siswa senang.

Jadi jangan heran SSB yang sering juara kita anggap terbaik di tiap kompetisi/Liga/Turnamen tidak punya pemain di Liga sekelas Nasional atau bahkan jadi pemain Nasional, malah hanya pemain2 dari ssb kasta terbawah yang sering terpacu untuk jadi pemain terbaik dan bisa menjadi pemain Liga.

Bila tidak ikut lomba sehingga anak tidak dapat piala, lalu bagaimana anak bisa berprestasi?

Ukuran berprestasi  bukanlah jumlah juara, piala atau medali. Menjadi juara, dapat piala atau medali tidak memberikan banyak informasi mengenai  tindakan yang perlu dilakukan untuk mengembangkan diri.( Bahkan di eropa untuk Kejuaraan/Kompetisi  banyak di lakukan hanya di saat Liburan Semester per 6 bulan) beda di Indonesia tiap weekend/sabtu/minggu selalu ada.

Bakat Bukan Takdir, ukuran berprestasi adalah karya yang dihasilkan anak dan manfaat dari sepakbola tersebut bagi orang lain. Portofolio sepakbola bakat anak berguna untuk mengenalkan diri pada masyarakat sekaligus sebagai bagian dari obrolan refleksi proses dan hasil belajar anak. Sayangnya, refleksi atas portofolio bakat anak hampir tidak pernah mendapat kesempatan untuk tampil, karena kebanyakan kegiatan anak sifatnya lomba.

Kadar kompetisi pada kegiatan anak sudah jauh melampui ambang batas. Bahkan kegiatan serupa pada orang dewasa bukan suatu lomba akan berubah menjadi lomba ketika dilakukan oleh anak-anak. Misal, ada lomba menggambar untuk anak tapi tidak ada lomba menggambar untuk orang dewasa, adanya adalah pameran lukisan. Ada olimpiade sains untuk anak tapi tidak ada olimpiade sains pada orang dewasa, adanya hak paten dan pemilihan peraih nobel. Pada dunia orang dewasa, lomba sebatas pada olah raga dan kegiatan yang memang hasilnya bisa diukur dan dibandingkan.

Sepakbola  Anak bukan lomba, artinya tidak ada anak dibandingkan dengan anak yang lain. Setiap anak telah dianugerahi bakat uniknya sendiri. Sepanjang gemar dan tekun melakukan aktivitas bakatnya, anak bisa tampil dan presentasi di SSB. Tekun tidak dinilai dari berapa jumlah piala yang didapatkan, tapi dari seberapa sering anak melakukan aktivitas seru di sepakbola sesuai kegemaran atau bakatnya.

Saat ini di tiap daerah di adakan tournament/liga sepakbola antar SSB sering diadakan. Setiap kali pula saya menyaksikan orang tua dan anak-anak yang bangga dan bahagia. Bukan karena kemenangan atau jadi juara, tapi karena mereka telah bisa tampil sebagai dirinya sendiri, diri terbaiknya. Dan tidak ada yang lebih bahagia selain menyaksikan anak-anak yang bahagia.

buat para pelatih-pelatih sepakbola Following Instagram :  @uefa_pro

 

www.buswisata.id

www.wargabaru.com