Alasan Timnas Selalu Kalah

Sebagai pecinta dan pemerhati sepakbola nasional, berikut 10 alasan, kenapa timnas Indonesia "akan" selalu kalah.

 

1. Pemain usia dini sudah tidak fokus

Anak-anak di Indonesia sudah mengenal sepakbola sejak usia 5 tahun, dan tertarik di usia 7 dan 8 sekolah dasar (SD) sudah ingin bergabung di SSB, keterampilan dasar dan skill pemain usia dini 8-12 tahun di Indonesia lebih baik dari negara-negara di Asia maupun di Eropa, bisa dilihat dari kejuaraan usia dini yang dimenangi Tim Indonesia, tetapi saat usia 13 tahun atau saat masuk SMP karena keterbatasan lahan sekolah tidak memiliki lapangan sepakbola dan yang ada hanya lapangan bola volley, basket dan bulu tangkis membuat anak-anak yang pada awalnya bercita-cita sebagai pemain sepakbola menjadi tidak fokus, pindah ke cabang olah raga lain yang ada ekstra-kulikulernya ada di sekolah. Ini yang membuat bibit muda pemain terbaik sepakbola Indonesia habis dan tidak bisa unjuk gigi di tingkat international. Sebagai perbandingan dari 10.000 anak hanya 200 anak yang tetap menggeluti sepakbola, untuk tim sepakbola yang kuat di dunia adalah yang dimulai dari usia 8 tahun dan terus dibina hingga usia 16 tahun dan sudah diminati oleh tim profesional. Banyak klub di Indonesia saat ini mulai merekrut pemain sejak usia 14 tahun dan bukan dari usia 8 tahun hingga banyak pelatihan tehnik dasar yang terlewati. Jangan heran masih banyak pemain profesional yang masih sering melakukan kesalahan dasar.

 

2. Indonesia terlalu cinta sepakbola

Indonesia terlalu cinta sepakbola, namun kecintaan tersebut terkadang dibutakan oleh fanatisme para suporter. Para suporter yang mencintai klub dan timnas kesayangan mereka melebihi apapun. Hal ini kemudian terkadang akan menjadi pemicu konflik. Kadang kala cinta yang berlebihan itu tidak baik, bahkan cenderung mengurangi atau menghilangkan efek cinta itu sendiri. Jika tim kesayangan mereka tidak menang, atau bermain kurang memuaskan, para suporter langsung melampiaskan kekesalan mereka di dalam stadion hingga di luar stadion. Jangan sampai nasionalisme akhirnya berubah menjadi fanatisme.

Hal ini kemudian menumbuhkan rasa takut kepada para pemain yang ingin bertanding dan suporter lainnya yang ingin menyaksikan langsung. Hingga akhirnya pressure yang berlebihan ini membuat para pemain takut dan akhirnya cenderung tidak bermain lepas dan tidak konsentrasi. Selalu bermain under pressure yang berlebihan akhirnya berujung permainan buruk dilapangan dalam pertandingan. Jadilah suporter yang professional dan elegan.

 

3. Indonesia tidak memiliki budaya sepakbola

Negara Indonesia punya beraneka ragam budaya, namun tidak memiliki budaya sepakbola. Di Indonesia sepakbola hanyalah sebuah permainan yang dimainkan di akhir pekan ataupun di sore hari. Orang-orang tidak menganggap sepakbola adalah sebuah pekerjaan, orang tua cenderung tidak akan mengarahkan anaknya agar menjadi pesepakbola profesional.

Terpengaruh oleh sistem sepakbola di Indonesia yang masih butuh pembenahan dan gaji yang tidak seberapa, akhirnya bibit muda sepakbola Indonesia lebih memilih melakukan hal lain. Tidak seperti di Afrika ataupun di Amerika Latin, sepakbola adalah gaya hidup. Di Indonesia juga timnas tidak memiliki gaya bermain spesifik. Apakah menyerang ataupun gaya bertahan. Tidak ada kejelasan gaya permain cenderung karena mengikuti komposisi pemain dan pelatih yang ada. Dengan budaya sepakbola yang mendarah daging, timnas Itali misalnya terkenal dengan disiplin pertahanannya, atau timnas Belanda dengan total-football-nya. Spanyol dengan tiki-taka-nya, Jerman yang selalu bombastis menyerang sampai akhir pertandingan (gegen-pressing). Ini adalah tantangan buat Tim Indonesia.

 

4. Kurangnya pembiayaan dan pembinaan usia dini di Indonesia

Sepakbola di Indonesia dimulai pada usia remaja sedangkan di Eropa pembinaan dimulai dari usia dini. Pembinaan mereka sejak usia 8 tahun. Sejak usia sedini itu pula, anak-anak tersebut diajarkan untuk berkompetisi dan mengerti arti kalah dan menang, dan bisa terima saat kalah dalam kompetisi. Hingga akhirnya mereka beranjak remaja dan akhirnya siap untuk menjajaki dunia profesional. Pembinaan bisa disiapkan dengan sistem kompetisi dengan usia yang berjenjang di klub pembina masing-masing. Bahkan usia 15 tahun sudah diminati klub Divisi 1. Bahkan di negara Eropa untuk sekolah sepakbola ada di tiap setingkat kelurahan dan dibiayai oleh Badan Sepakbola Nasional seperti PSSI-nya Indonesia. Dan ada kompetisi nasional minimal 6 kompetisi tiap tahunnya untuk mencari bibit untuk dijadikan pemain profesional.

 

5. Konflik berkepanjangan di tubuh lembaga sepak bola

Timnas kita adalah tim sepakbola kecil di Asia, lebih tepatnya lagi di Asia Pasifik. Oleh karena itu lembaga tertinggi sepakbola menjadi penopang dan harus menjadi pondasi dasar sepakbola Indonesia. Namun bagaimana pondasi bisa bagus, jika selalu saja ada konflik di tubuh lembaga sepak bola. Organisasi yang semestinya berbau olah raga namun kini cenderung menghadapi berbagai persoalan dan bahkan politik. Semua petinggi organisasi saling berebut jatah politik yang akhirnya berujung pada konflik yang berkepanjangan. Sebut saja kasus pemimpin sebelumnya. Konflik selalu terjadi di tubuh lembaga sepakbola masih meninggalkan luka yang mendalam bagi dunia sepakbola Indonesia. Kondisi ini harus segera disikapi dengan baik karena memberikan pengaruh besar dalam perkembangan dan pembinaan dunia persepakbolaan tanah air. No Politic Man in Football, jikalau diperlukan, staff FIFA bisa turun langsung untuk mengelola PSSI selama 5 tahun sampai struktur organisasi lembaga sepakbola Indonesia menjadi kuat dan layak.

 

6. Terlalu banyak pemain asing di Liga Indonesia

Kualitas Liga Indonesia ditingkatkan dengan klub-klub papan atas Indonesia yang bersolek dengan membenahi stadion, sarana dan prasarana hingga akhirnya mendatangkan pemain pemain asing berkualitas. Datangnya pemain asing ke Indonesia kemudian menjadi bisnis yang sangat menggiurkan kepada para agen, bukan pada klub. Namun jumlah pemain asing yang terus meningkat hingga akhirnya sulit untuk ditampung oleh klub. Selain gaji yang terbilang cukup besar, juga tidak semua pemain asing memenuhi kriteria pemain hebat yang dicari oleh klub. Kalau mendatangkan para pemain asing hanya untuk dipertontonkan atau dibunuh secara perlahan, lebih baik tidak usah. Dengan menumpuknya jumlah pemain asing, pemain lokal kita akhirnya jadi tidak dipercaya dan tidak dapat kesempatan untuk bermain lebih banyak. Hal ini harus menjadi perhatian kita semua, karena efeknya akan sampai ke Tim Nasional.

 

7. Mental pemain Indonesia

Ingat AFF 2011 setelah melaju ke final dengan mudah, seolah-olah Timnas Indonesia sudah pasti menjuarai Piala AFF, hal itu terlihat dari jumawanya para pemain maupun pengurus PSSI. Pemain dan pelatih yang seharusnya fokus pada pertandingan final, malah para petinggi PSSI dan politisi secara bergiliran mengundang para pemain timnas melakukan jamuan makan malam dan kegiatan lainnya yang tidak ada hubungannya dengan sepakbola. Akibat terlalu percaya diri akhirnya berakibat fatal kepada timnas. Tim nasional yang sebelumnya membantai Malaysia 5-1 di babak grup harus menelan pil pahit dengan kekalahan di final dengan agregat 4-2 untuk Malaysia. Dengan pengalaman yang menyayat hati di piala AFF 2011 silam, Tim Nasional Indonesia harusnya belajar dari pengalaman. Walau bagaimanapun, timnas harus menang terlebih dahulu melawan ego mereka.

 

8. Pelatih tim nasional yang datang silih berganti

Dalam 4 tahun terakhir sejak 2010, tim nasional kesayangan kita telah dilatih oleh 7 pelatih yang berbeda dengan 4 kewarganegaraan yang berbeda pula. Pelatih yang selaluh silih berganti akhirnya memberikan dampak pada permainan timnas yang juga berganti seiring bergantinya pelatih. Pemain timnas selama 4 tahun terakhir kemudian harus beradaptasi dengan gaya kepelatihan yang berbeda-beda. Tidak adanya sebuah situasi yang stabil di tubuh staff kepelatihan timnas akhirnya berujung pada penampilan timnas yang tak kunjung membaik. Banyak pelatih timnas masih ikut gaya ortodoks saja tidak belajar dari pengalaman pelatih dari negara berkembang sepakbolanya.

 

9. Pemain naturalisasi yang tidak natural

Dengan harapan memiliki pemain tim nasional berkualitas, PSSI melakukan audisi sejak 2010 silam di seluruh dunia. Dimana PSSI berusaha mengajak para pemuda yang memiliki darah Indonesia agar mereka bergabung dengan timnas. Sebut saja, salah satu produk audisi yang paling terkenal namun masih jauh dari sukses, adalah munculnya nama seperti Irfan Bachdim. Irfan yang pada awalnya digadang-gandang sebagai wonderkid yang akan menjadi legenda Tim Nasional Indonesia pada akhirnya lebih banyak menghabiskan waktunya di depan kamera dari pada di lapangan. Timnas U-19 mampu berprestasi tanpa satu pun pemain naturalisasi. Pelatih Indra Safri yang melakukan audisi tidak di seluruh penjuru dunia namun di seluruh pelosok nusantara akhirnya menemukan 23 pemain berbakat yang akhirnya bergabung dengan timnas U-19. Sudah saatnya PSSI lebih fokus pada pembinaan pemain lokal dari pada proses instan naturalisasi.

 

10. Pelatnas yang tidak maksimal

Pelatnas atau biasa yang disebut dengan pelatihan nasional memang menjadi ajang persiapan timnas sebelum berlaga. Namun pelatnas yang seharusnya menjadi ajang persiapan terkadang menjadi ajang tanpa persiapan. Kenapa tidak, minimnya waktu persiapan yang diakibatkan oleh padatnya jadwal Liga Indonesia membuat para pemain timnas yang semestinya bersiap-siap malah kewalahan. Hal ini kemudian membuat penampilan para pemain timnas kurang maksimal. Akibat juga dari pencari pemain berbakat yang kurang mengunjungi ke pelosok negeri mencari pemain berbakat.

Catatan penting:

Indonesia menjadi negara futsal, bukan negara sepakbola.

Semakin meningkatnya jumlah lapangan futsal di Indonesia membuat turunnya minat masyarakat untuk bermain sepakbola 11 melawan 11. Orang Indonesia kini lebih memilih sepakbola sebagai tontonan, bukan hobi seperti dulu lagi. Hal ini kemudian berdampak langsung pada generasi muda yang lebih memilih bermain futsal dari pada bermain sepakbola. Dalam bermain futsal, seorang pemain memerlukan kontrol bola, dribling dan power agar bisa bermain baik, tetapi futsal tidak memerlukan latihan kontrol emosi para pemain terutama usia muda.

Jumlah stadion sepakbola di Indonesia masih kurang

Di Indonesia hampir tidak ada sebuah stadion yang memang dipakai untuk bermain sepakbola. Di setiap stadion sudah pasti ada lapangan trek untuk berlari, yang pada akhirnya menggangu para suporter. Jarak yang jauh dari tribun dan lapangan akhirnya mengurangi minat para suporter untuk menonton.

 

Liga yang patut di contoh oleh Indonesia dengan banyak propinsi dan klub bisa diadaptasi dari Liga Brazil.